Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Kemaksiatan dan Dampak Negatifnya terhadap Individu dan Masyarakat

Segala puji milik Allah Penguasa Alam Semesta, Pemberi Petunjuk, dan Pengampun Segala Dosa.

Saudaraku, perbuatan dosa dan maksiat memberi pengaruh yang besar serta efek yang sangat berbahaya bagi individu dan masyarakat. Allah telah menerangkan dengan sejelas-jelasnya pengaruh perbuatan ini, sejak perbuatan maksiat pertamakali dilakukan oleh manusia.
Marilah kita mengambil beberapa nash Al-Quran dan Al-Hadits yang menyebutkan pengaruh-pengaruh perbuatan maksiat ini.
Allah berfirman, yang artinya:
“Dan Adam pun mendurhakai Rabb nya maka ia sesat, kemudian Rabb nya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberi Adam petunjuk. Allah berfirman, ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu jadi musuh sebagian yang lain maka jika datang kepadamu petunjuk dari Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘ya Rabb ku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang bisa melihat. Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami maka kamu melupakannya’ dan begitu pula pada hari ini pun kamu dilupakan’ ”. (QS. Thoha: 121-126).
Ayat ini menyebutkan beberapa efek negatif yang ditimbulkan karena perbuatan maksiat. Allah menjelaskan bahwa akibat (yang ditimbulkan karena) maksiat adalah ghoi (kesesatan) yang merupakan sebuah kerusakan, seakan-akan Allah berfirman, “Barangsiapa mendurhakai Allah, maka Allah akan merusak kehidupannya di dunia”.
Makna seperti ini juga disebutkan dalam ayat-ayat berikut:
“Lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka”. (QS. Thoha: 123).
Konsekuensinya, orang yang tidak mengikuti petunjuk Allah maka ia akan sesat dan celaka. Ayat berikut menjelaskan lebih gamblang, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”. (QS. Thoha: 124).
Maksudnya, ia akan mendapat kesengsaraan dan kesusahan. Dalam tafsirnya (3/164), Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Di dunia, ia tidak akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Hatinya gelisah yang diakibatkan kesesatannya. Meskipun zhahirnya nampak begitu enak, bisa mengenakan pakaian yang ia kehendaki, bisa mengkonsumsi jenis makanan apa saja yang ia inginkan, dan bisa tinggal di tempat mana saja yang ia sukai. Selama ia belum sampai kepada keyakinan dan petunjuk, maka hatinya akan senantiasa gelisah, bingung, ragu, dan masih saja terus ragu. Inilah bagian dari kehidupan yang sempit”.
Perhatikanlah pula pengaruh dan efek dari perbuatan maksiat dalam firman Allah:
“Dan (ingatlah) ketika kamu (Bani Israil) berkata, ‘Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu, mohonkanlah untuk kami kepada Rabb mu agar Dia mengeluarkan bagi kami apa yang ditumbuhkan bumi yaitu sayur mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya,kacang adasnya, dan bawang merahnya’. Musa berkata, ‘Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang baik ?. Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta’. Lalu ditimpakan kenistaan dan kehinaan kepada mereka serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. (QS. Al-Baqarah: 61).
Ayat ini memuat beberapa akibat (yang ditimbulkan karena perbuatan) maksiat. Di antaranya:
Pertama. Allah telah menetapkan kehidupan yang rendah buat mereka karena mereka menghendaki hal itu. Maka terwujudlah yang mereka minta, mereka menukar manna dan salwa (sejenis burung puyuh). Ini merupakan sesuatu yang lebih berharga dibanding sayur mayur, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah (sesuatu yang lebih rendah).
Kedua. Ditimpakan kepada mereka kehinaan.
Ketiga. Mereka akan kembali kepada Allah dengan menanggung kemurkaan Allah Subhanahu wata’ala.
Renungkanlah firman Allah, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah (Rasulullah) takut akan ditimpa musibah atau ditimpa adzab yang pedih”. (QS. An-Nur: 63).
Maksud menyelisihi perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah menyelewengkan perintahnya. Akibat yang ditimbulkan (musibah) yaitu meliputi kemurtadan, kematian, kegoncangan, kesusahan, penguasa yang zhalim, dan tertutupnya hati. Kemudian setelah itu akan mendapat adzab yang pedih.
Di antara pengaruh lainnya yaitu ditenggelamkannya kaum Nabi Nuh:
“Dan disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah”. (QS. Nuh: 25).
Di antara pengaruh yang ditimbulkan karena perbuatan maksiat juga, yaitu kehancuran total. Allah berfirman:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami). Kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. (QS.Al-Isra’: 16).
Begitu juga dalam Hadits yang shahih, banyak menyebutkan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh maksiat. Contohnya hadits yang menyebutkan tentang kehinaan dan kerendahan. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallamRahimahullah). bersabda, “Aku diutus oleh Allah sebelum hari kiamat dengan membawa pedang, sampai hanya Allah saja yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan rizkiku telah dijadikan di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan mereka”. (HR. Imam Ahmad dengan sanad jayyid. Lihat Ad Daa wad Dawa’ karya Ibnul Qayyim
Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita semua untuk senantiasa mentaati perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam serta menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat yang akan menyesatkan, menghinakan, dan mencelakakan kita di dunia dan di akhirat kelak. Amin.
[Habib, Ma’had Tadribud Du’at Al-Istiqomah Prabumulih]

Buletin Al-Istiqomah, Edisi Ke-2 Volume III Th. 1432 H / 2011 M.

KUNCI HARTA KARUN ORANG MUKMIN

Kebahagiaan layaknya harta karun. Betapa banyak manusia yang menginginkannya. Namun sebanyak itu pula manusia gagal mendapatkannya. Terpendam begitu dalam. Tertimbun kerakusan dan ketamakan dunia. Sebagian manusia mencarinya dengan menumpuk uang di bank, ada juga yang mencarinya dengan mengoleksi barang-barang mewah di rumah-rumah mereka. Tapi benarkah hal itu merupakan salah satu kunci untuk membuka harta karun tersebut?

PETA YANG SALAH

Sebagian besar insan menganggap materi adalah segalanya. Mereka mengira bahwa hanya dengan hartalah seseorang dapat menjadi kaya. Mereka menyangka bahwa hanya dengan hartalah mereka dapat memiliki apa yang manusia inginkan, yaitu kebahagiaan. Seakan-akan harta adalah standarisasi kekayaan. Seolah-olah materi adalah harga mati kebahagiaan seseorang. Namun realita berbicara lain. Tidak sedikit manusia dengan segudang harta namun selalu merasa kurang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tidak sedikit pula manusia hidup mewah bergelimang harta tapi hati mereka jauh dari kebahagiaan. Entah itu karena sakit, sibuk, dan lain sebagainya, sehingga tidak mampu menikmati harta kekayaannya. Inilah kenyataan yang menepis semua persepsi keliru yang mendarah daging di benak kebanyakan kita.

Renungkanlah! Jika saja kebahagiaan manusia dinilai dari harta, maka tentu Allah Ta’ala akan mengutus para Rasul-Nya dengan membawa dinar dan dirham. Jika saja kebahagiaan manusia dinilai dari harta, maka tentu semua para Nabi hidup kaya bergelimang harta. Namun, tidaklah demikian, saudaraku.

JALAN MENUJUNYA

Jadi, apa yang menjadi tolak ukur kekayaan seseorang?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati." (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia hanya memandang kepada amal dan hati kalian.” (HR. Muslim)

Sungguh, syari’at telah menjelaskan jalan sebenarnya menuju kebahagiaan, yaitu kaya hati. Bukan kaya harta sebagaimana yang kebanyakan manusia kira. Lalu, apa yang dimaksud kekayaan hati?

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Kekayaan yang terpuji adalah kayanya jiwa dan sedikitnya ketamakan terhadapnya. Bukanlah yang dimaksud (kekayaan) adalah banyaknya harta dan kerakusan untuk selalu ingin menambahnya. Karena barangsiapa yang selalu meminta tambahan dan tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dia miliki, maka sejatinya dia tidak memiliki kekayaan.” [Syarh Shohih Muslim]

Itulah qona’ah. Merasa cukup dengan apa yang Allah telah berikan kepadanya. Sebuah akhlak mulia yang terlupakan oleh kebanyakan dari kita. Padahal dialah kunci harta karun yang akan membukakan kebahagiaan kepada pemiliknya.

KUNCI HARTA KARUN

Lalu, bagaimana meraih kunci harta karun tersebut?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah kalian melihat orang yang lebih tinggi dari kalian, sesungguhnya hal itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah. (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Ibnu Jarir rahimahullah berkata: ‘betapa banyak kebaikan terkandung dalam hadits ini, karena manusia apabila melihat seseorang yang dilebihkan atasnya perkara dunia, maka ia akan meminta untuk dirinya semisalnya. Sehingga dia meremehkan nikmat Allah yang ada pada dirinya dan menginginkan tambahan nikmat dengan tamaknya agar semisal dengannya. Ini tedapat di sebagian besar manusia. Adapun apabila dia melihat kepada orang yang lebih rendah dalam perkara dunia, maka akan tampak bahwa dia diberi nikmat yang banyak dari Allah. Sehingga dia bersyukur atasnya dan rendah hati, sehingga dia telah melakukan kebaikan di dalamnya’.” (Syarh Shohih Muslim)

HARTA KARUN SEJATI

Allah Ta’ala berfirman:
"Barangsiapa yang beramal shalih baik laki-laki atau pun perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka amalkan." (An-Nahl: 97)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menafsirkannya dengan sifat qana'ah (merasa cukup), demikian pula yang dikatakan Ibnu 'Abbas, 'Ikrimah dan Wahb bin Munabbih. Berkata 'Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu 'Abbas: "Sesunggguhnya kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan." (Tafsir Ibnu Katsir)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh amat beruntunglah seorang yang memeluk Islam dan diberi rizki yang cukup serta qana'ah terhadap apa yang diberikan Allah." (HR. Muslim)

Sungguh, qona’ah adalah tanda kekayaan hati yang dengannya seseorang meraih harta karun sejati: kebahagiaan hakiki. Ia merasa cukup dengan apa yang telah Allah gariskan untuknya, sehingga hatinya jauh dari rasa penat, rasa sedih, dan kekecewaan. Ia pasrah dan tunduk terhadap takdir Allah. Hatinya jauh dari jerat-jerat hasad dan kebencian. Inilah kebahagiaan yang sangat jarang kita temui di kebanyakan kaum muslimin. Inilah harta karun sejati yang layak untuk diburu oleh orang yang beriman.

SAATNYA BERBURU!

Harta karun orang mukmin adalah kebahagiaan dan salah satu kuncinya adalah qona’ah. Setelah mengetahui hal ini, tidak ada alasan lagi buat kita, orang mukmin, untuk tidak segera memburunya. Orang yang miskin harta maupun bergelimang harta memiliki kesempatan sama untuk meraihnya. Karena kunci harta karun tersebut terletak di hati, yang semua manusia di muka bumi ini memilikinya.

Sekarang, tiba saatnya untuk  memanage hati kita untuk selalu merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan untuk kita, untuk tidak mengeluh dengan harta yang sedikit dan tidak merasa pongah dengan harta yang banyak. Ketahuilah, bahwa rezeki kita telah ditetapkan. Tidak ada seorang pun yang kuasa merampasnya. Tidak akan meninggal seorang hamba hingga ia mendapatkan seluruh rezekinya yang telah Allah Ta’ala tuliskan di Lauhul Mahfuzh.

Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang rahasia kezuhudan beliau, maka beliau pun menjawab: “Saya mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang mengambil rezekiku, maka tenanglah hatiku. Saya mengetahui bahwa tidak ada selainku yang beramal dengan amal perbuatanku, maka aku pun menyibukkan diri dengannya. Saya mengetahui bahwa Allah senantiasa mengawasiku, maka aku malu jika Dia melihatku sedangkan aku memaksiati-Nya. Saya pun mengetahui bahwa kematian sedang menantiku, maka aku pun menyiapkan bekal untuk perjumpaan dengan Rabb-ku.” (Arsyiifu Mutalaqqo Ahlil Hadits)

Akhirnya, kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari sifat tamak dan cinta dunia. Dan kita memohon kepada Allah Ta’ala agar hati kita selalu merasa cukup dengan rezeki yang telah Allah berikan. Sehingga kita menjadi orang yang kaya dengan hati yang merasa puas dan dengannya kita meraih kebahagiaan, harta karun orang mukmin.

[Roni Nuryusmansyah, Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember]


Buletin Al-Istiqomah, Edisi Ke-2 Volume I Th. 1432 H / 2011 M.

KEHIDUPAN SEHARI-HARI YANG ISLAMI

Oleh
Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah

Saudaraku....
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, supaya kita bisa mengambil mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.

Apakah anda selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap hari .?

Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid .?

Apakah anda hari ini membaca Al-Qur'an .?

Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib .?

Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib .?

Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca .?
Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur .?

Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya .?

Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu wa Ta'ala masukkanlah ia ke dalam Surga".

Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka". Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya :"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". [Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6]

Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam .?

Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik .?

Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau .?

Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala .?

Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari .?

Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen) .?

Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati Syahid .? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :"Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur". [Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya]

Apakah anda telah berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?

Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di waktu-waktu yang mustajab .?

Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama .? [Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent]

Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah .? Karena setiap mendo'akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.

Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam .?

Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya .?

Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya .?

Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala saja .?

Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri .?

Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala .?

Apakah anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda .?

Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua .?

Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah .?

Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini : " Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui". Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. [Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625]

Apakah anda berbuat baik kepada tetangga .?

Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki .?

Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya .?

Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian .?

Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan .?

Saudaraku ..
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.


[Risalah ini dinukilkan dari buku saku Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, Penerjmeah Fariq Gasim Anuz]

Sumber: www.almanhaj.or.id


Buletin Al-Istiqomah, Edisi Perdana Volume IV Th. 1432 H / 2011 M.

KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN PAHALANYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Di Antara Fadhilah (Keutamaan) Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.

Pertama.
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

"Artinya : Dari Abdullah bin Mas'ud katanya, "Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah" [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

Dengan demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

Kedua.
Bahwa ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan.

"Artinya : Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu 'anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

Ketiga.
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut. Dengan dasar hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Ibnu Umar.
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, 'Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan'. Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah. "Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser" [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi Shalihil A'mal]

Ini menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, Insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya.

Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan 'Si Anak' yang 'bergadang' untuk memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil.

'Si Anak' melakukan pekerjaan tersebut tiap hari dengan tidak ada perasaan bosan dan lelah atau yang lainnya. Bahkan ketika kedua orang tuanya sudah tidur, dia rela menunggu keduanya bangun di pagi hari meskipun anaknya menangis. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus didahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri dalam rangka berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada berbuat baik kepada istri sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin Khaththab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ceraikan istrimuu" [Hadits Riwayat Abu Dawud No. 5138, Tirimidzi No. 1189 beliau berkata, "Hadits Hasan Shahih"]

Dalam riwayat Abdullah bin Mas'ud yang disampaikan sebelumnya disebutkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Begitu besarnya jasa kedua orang tua kita, sehingga apapun yang kita lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak akan dapat membalas jasa keduanya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka'bah dan ke mana saja 'Si Ibu' menginginkan, orang tersebut bertanya kepada, "Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma, "Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu" [Shahih Al Adabul Mufrad No.9]

Orang tua kita telah megurusi kita mulai dari kandungan dengan beban yang dirasakannya sangat berat dan susah payah. Demikian juga ketika melahirkan, ibu kita mempertaruhkan jiwanya antara hidup dan mati. Ketika kita lahir, ibu lah yang menyusui kita kemudian membersihkan kotoran kita. Semuanya dilakukan oleh ibu kita, bukan oleh orang lain. Ibu kita selalu menemani ketika kita terjaga dan menangis baik di pagi, siang atau malam hari. Apabila kita sakit tidak ada yang bisa menangis kecuali ibu kita. Sementara bapak kita juga berusaha agar kita segera sembuh dengan membawa ke dokter atau yang lain. Sehingga kalau ditawarkan antara hidup dan mati, ibu kita akan memilih mati agar kita tetap hidup. Itulah jasa seorang ibu terhadap anaknya.

Keempat.
Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur. Sebagaimana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Anas Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi" [Hadits Riwayat Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu Dawud 1693]

Dalam ayat-ayat Al-Qur'an atau hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dianjurkan untuk menyambung tali silaturahmi. Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama ibu dan bapaknya. Tapi setelah dewasa, seakan-akan dia tidak pernah berkumpul bahkan tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan umur. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa dengan silaturahmi akan diakhirkannya ajal dan umur seseorang.[1] walaupun masih terdapat perbedaan dikalangan para ulama tentang masalah ini, namun pendapat yang lebih kuat berdasarkan nash dan zhahir hadits ini bahwa umurnya memang benar-benar akan dipanjangkan.

Kelima.
Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga. Maka kebalikan dari hadits tersebut yaitu anak yang berbuat baik kepada kedua orang tua akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke jannah (surga).

Dosa-dosa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah Subahanahu wa Ta'ala akan menghindarkannya dari berbagai malapetaka, dengan izin Allah.


[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta.]
_________
Foote Note.
[1] Riyadlush Shalihin, hadits No. 319 

Sumber: www.almanhaj.or.id 


Buletin Al-Istiqomah, Edisi Perdana Volume III Th. 1432 H / 2011 M.